Menkeu Purbaya Buka Suara soal Rupiah Anjlok, Ternyata Ini Faktanya
Pandapek.com - Nilai tukar rupiah terus melemah dan mencatatkan rekor terburuk sepanjang sejarah pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026.
Berdasarkan data Morningstar, rupiah berada di level Rp17.714 per dolar AS pada pukul 7.00 WIB, melemah 80 poin lebih atau sekitar 0,45 persen dari penutupan sebelumnya.
Dunsanak Pandapek, angka ini bahkan melampaui rekor pelemahan saat krisis moneter 1998 yang kala itu sempat menyentuh kisaran Rp16.800 per dolar AS.
Purbaya Bantah Skenario Krisis 1998
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara merespons kekhawatiran publik soal kondisi nilai tukar rupiah yang terus melemah.
Purbaya menegaskan kondisi saat ini tidak bisa disamakan dengan krisis ekonomi yang menghancurkan Indonesia pada 1997 hingga 1998.
Menurutnya, krisis saat itu dipicu kebijakan yang keliru dan instabilitas sosial politik yang terjadi setelah Indonesia mengalami resesi lebih dari setahun.
Dunsanak Pandapek, Purbaya menekankan bahwa Indonesia saat ini belum masuk fase resesi dan perekonomian nasional masih mencatatkan pertumbuhan yang positif.
"Jadi masih ada ruang untuk memperbaiki semua," kata Purbaya di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (18/5).
Sejumlah ekonom turut mendukung pandangan ini dengan menyatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibanding kondisi 1998.
Kemenkeu Masuk Pasar Obligasi
Purbaya mengungkapkan pemerintah telah mengambil langkah konkret untuk menstabilkan nilai tukar rupiah sejak pekan lalu.
Kementerian Keuangan turun tangan membantu Bank Indonesia melalui mekanisme bond stabilization fund atau BSF dengan masuk ke pasar obligasi.
Pada Senin (18/5), Purbaya menyatakan pihaknya akan terjun ke pasar obligasi secara lebih signifikan dibanding intervensi pekan sebelumnya.
Dunsanak Pandapek, tujuan langkah ini adalah menjaga harga obligasi agar investor asing tidak terdorong menjual surat utang Republik Indonesia karena khawatir mengalami capital loss.
"Asing yang pegang obligasi nggak keluar, karena takut misalnya ada capital loss gara-gara harga obligasi turun," ujar Purbaya.
Stabilisasi pasar obligasi diharapkan dapat secara tidak langsung meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Faktor Eksternal Penekan Rupiah
Pelemahan rupiah tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan dipicu oleh kombinasi tekanan global yang datang bersamaan.
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz, menjadi salah satu faktor utama yang meresahkan pelaku pasar keuangan global.
Penguatan indeks dolar AS yang melampaui level 99 secara mingguan turut memberikan tekanan langsung terhadap mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Dunsanak Pandapek, ekspektasi bahwa The Federal Reserve tidak akan memangkas suku bunga sepanjang 2026 semakin memperkuat posisi dolar AS di pasar global.
Kenaikan harga minyak mentah dunia juga berdampak langsung karena Indonesia mengimpor sekitar 1,5 juta barrel minyak per hari sehingga membutuhkan pasokan dolar dalam jumlah besar.
Faktor musiman pembagian dividen perusahaan dan jatuh tempo utang luar negeri ikut mendorong lonjakan permintaan dolar di pasar domestik.
Tekanan Domestik Persulit Pemulihan
Selain faktor global, pelemahan rupiah juga diperparah oleh kondisi di dalam negeri yang turut mempengaruhi persepsi investor.
Ekonom Universitas Hasanuddin, M. Syarkawi Rauf, mencatat bahwa country risk premium Indonesia sejak Januari 2026 berada di level 2,46 persen, lebih tinggi dari Malaysia 1,55 persen dan Thailand 2,07 persen.
Tingginya persepsi risiko ini membuat investor asing lebih berhati-hati dalam menempatkan dananya di aset-aset berbasis rupiah.
Dunsanak Pandapek, rebalancing indeks MSCI periode Mei 2026 juga menjadi tekanan tambahan karena jumlah perusahaan Indonesia yang keluar dari indeks jauh melebihi ekspektasi awal pelaku pasar.
Sebagian masyarakat yang mulai mengalihkan simpanan dari rupiah ke mata uang asing turut memperparah tekanan permintaan dolar di pasar domestik.
Secara year to date sejak awal 2026, rupiah telah melemah hampir 6 persen terhadap dolar AS, menjadikannya mata uang Asia Tenggara dengan depresiasi terdalam.
DPR Tagih Langkah Serius BI
Tekanan rupiah yang terus berlanjut memantik respons keras dari Dewan Perwakilan Rakyat.
Anggota Komisi XI DPR RI Misbakhun mendesak Bank Indonesia melakukan langkah sungguh-sungguh untuk mengembalikan rupiah mendekati asumsi makro APBN 2026 di level Rp16.500 per dolar AS.
Sejak awal 2026, rupiah belum sekali pun menyentuh kembali level Rp16.500 yang menjadi acuan dalam postur anggaran negara.
Dunsanak Pandapek, Misbakhun juga mengingatkan bahwa pelemahan rupiah kini mulai menekan biaya impor BBM, LPG, dan bahan baku industri yang bergantung pada dolar AS.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sebelumnya menyebut rupiah biasanya mengalami penguatan pada periode Juni hingga September, memberikan harapan perbaikan di paruh kedua tahun ini.
BI sendiri telah menegaskan tujuh langkah stabilisasi nilai tukar yang mencakup intervensi pasar valuta asing berskala besar hingga pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder.
Proyeksi dan Prospek ke Depan
Sejumlah analis memperingatkan bahwa rupiah berpotensi melanjutkan pelemahan hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar AS jika tekanan eksternal tidak mereda.
Faktor musiman pembayaran dividen koperasi dan perusahaan diperkirakan akan terus mendorong permintaan dolar hingga akhir kuartal kedua 2026.
Lembaga pemeringkat internasional seperti Moody's, Fitch, dan S&P Global telah merevisi outlook utang pemerintah Indonesia dari stabil menjadi negatif sejak awal tahun ini.
Dunsanak Pandapek, kondisi ini mempersempit ruang gerak pemerintah dalam menjaga kepercayaan investor asing yang memegang portofolio aset Indonesia.
Bank Indonesia menyatakan cadangan devisa nasional masih berada pada level yang cukup untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dalam jangka pendek.
Purbaya meyakini langkah koordinasi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia akan mampu meredam gejolak lebih lanjut dan memberi sinyal positif bagi pasar keuangan Indonesia.
