Komputer Kuantum China Jiuzhang 4.0 Kalahkan Supercomputer AS
Pandapek.com - China kembali mencatatkan terobosan bersejarah di bidang komputasi kuantum melalui pengembangan Jiuzhang 4.0.
Prototipe komputer kuantum berbasis foton ini resmi diperkenalkan oleh tim peneliti dari University of Science and Technology of China atau USTC pada pertengahan Mei 2026.
Dunsanak Pandapek, hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi Nature dan langsung menarik perhatian komunitas sains dan teknologi di seluruh dunia.
Rekor Komputasi Kuantum Baru
Jiuzhang 4.0 berhasil menyelesaikan masalah Gaussian Boson Sampling hanya dalam waktu 25 mikrodetik.
Untuk perbandingan, supercomputer tercepat dunia saat ini, El Capitan milik Amerika Serikat, membutuhkan waktu lebih dari 10^42 tahun untuk menyelesaikan perhitungan yang sama.
Angka tersebut bukan sekadar angka besar biasa, melainkan jauh melampaui usia alam semesta yang hanya sekitar 13,8 miliar tahun.
Dunsanak Pandapek, capaian ini memperkuat klaim quantum computational advantage yang selama ini menjadi tolok ukur supremasi komputasi kuantum di tingkat global.
Penelitian ini langsung menjadikan Jiuzhang 4.0 sebagai pemegang rekor baru teknologi informasi kuantum optik di dunia.
Para analis menilai capaian ini sebagai bukti nyata bahwa China kini berada di garis terdepan persaingan teknologi kuantum global.
Pendekatan Foton Tanpa Pendingin Kriogenik
Jiuzhang 4.0 menggunakan pendekatan photonic quantum computing, yakni komputasi berbasis partikel cahaya atau foton.
Sistem ini berbeda secara fundamental dengan komputer kuantum milik Google dan IBM yang umumnya mengandalkan superconducting qubit.
Keunggulan utama pendekatan foton adalah kemampuannya beroperasi pada suhu ruangan tanpa memerlukan infrastruktur pendingin kriogenik yang mahal dan rumit.
Dunsanak Pandapek, ini menjadikan Jiuzhang 4.0 secara teoritis lebih praktis dan berpotensi lebih mudah dikembangkan ke skala yang lebih besar di masa depan.
Jiuzhang pertama kali diperkenalkan pada 2020 sebagai sistem foton pertama di dunia yang membuktikan keunggulan komputasi kuantum.
Sejak saat itu, pengembangan mesin ini berlangsung pesat di bawah kepemimpinan fisikawan kuantum terkemuka Tiongkok, Profesor Pan Jianwei dari USTC.
Lompatan 3.050 Foton
Salah satu peningkatan paling signifikan pada Jiuzhang 4.0 adalah kemampuannya memanipulasi dan mendeteksi hingga 3.050 foton secara bersamaan.
Jumlah ini meningkat drastis dibandingkan Jiuzhang 3.0 yang hanya mampu menangani 255 foton ketika diperkenalkan pada 2023.
Untuk mencapai hal tersebut, tim peneliti menggunakan 1.024 squeezed-state inputs yang diintegrasikan ke dalam jaringan interferometrik 8.176-mode.
Dunsanak Pandapek, peningkatan skala ini dinilai sebagai lompatan besar dalam pengembangan prosesor kuantum foton berdaya rendah.
Efisiensi sumber foton Jiuzhang 4.0 tercatat mencapai 92 persen, angka yang belum pernah dicapai sistem kuantum foton mana pun sebelumnya.
Para peneliti USTC menyebut pencapaian ini membuka peluang untuk membangun trillion-qubit-mode three-dimensional cluster states sebagai fondasi komputasi kuantum masa depan.
Dampak di Berbagai Bidang
Komputer kuantum diprediksi akan menjadi teknologi paling transformatif dalam beberapa dekade ke depan.
Kemampuan memproses data super kompleks secara ekstrem cepat membuatnya berpotensi merevolusi bidang kecerdasan buatan, kriptografi, farmasi, dan simulasi perubahan iklim.
Dunsanak Pandapek, dalam bidang kriptografi khususnya, kemampuan Jiuzhang 4.0 telah memicu kekhawatiran serius soal keamanan sistem enkripsi yang digunakan saat ini, termasuk enkripsi mata uang kripto seperti Bitcoin.
Di bidang farmasi, simulasi molekuler yang selama ini membutuhkan waktu bertahun-tahun secara teori dapat diselesaikan dalam hitungan detik menggunakan komputer kuantum.
Dalam riset perubahan iklim, kemampuan komputasi ini berpotensi menghasilkan model simulasi iklim yang jauh lebih akurat dan detail dari yang pernah ada.
Komunitas ilmiah global menyambut publikasi ini dengan antusias sekaligus waspada, mengingat implikasinya yang luas terhadap keamanan digital di seluruh dunia.
Keterbatasan yang Diakui
Meski pencapaiannya luar biasa, para ilmuwan dari USTC sendiri secara terbuka mengakui keterbatasan Jiuzhang 4.0.
Sistem ini masih bersifat khusus untuk tugas tertentu seperti Gaussian Boson Sampling dan belum dapat difungsikan sebagai komputer serbaguna.
Dunsanak Pandapek, Komisi Peninjauan Ekonomi dan Keamanan AS-China dalam laporannya November 2025 menyatakan bahwa terobosan kuantum China kerap kekurangan verifikasi independen.
Lembaga analisis strategis Center for Strategic and International Studies pada Januari 2026 juga mencatat bahwa sistem kuantum China belum sepenuhnya terverifikasi oleh pihak luar secara menyeluruh.
Tim USTC merespons keraguan tersebut langsung dalam makalah Nature dengan membandingkan hasil Jiuzhang 4.0 terhadap metode algoritma klasik terkini dan menyimpulkan keunggulan kuantumnya tetap bertahan.
Komunitas ilmiah internasional menantikan proses verifikasi independen yang lebih menyeluruh untuk mengonfirmasi klaim monumental ini secara resmi.
Persaingan Kuantum AS dan China
Peluncuran Jiuzhang 4.0 semakin memanaskan persaingan teknologi antara China dan Amerika Serikat di bidang komputasi kuantum.
AS selama ini mengandalkan pengembangan dari perusahaan teknologi besar seperti Google, IBM, dan Microsoft yang menggunakan pendekatan superconducting qubit.
Dunsanak Pandapek, keberhasilan China dengan pendekatan foton memberikan jalur alternatif yang secara teknis lebih menjanjikan dalam jangka panjang.
Penguasaan teknologi kuantum semakin diperlakukan sebagai isu keamanan nasional oleh kedua negara mengingat potensinya dalam membobol sistem enkripsi militer dan diplomatik.
Jiuzhang 4.0 menjadi sinyal kuat bahwa China tidak hanya mengejar, tetapi dalam aspek tertentu telah melampaui kapabilitas saingan-saingannya di Barat.
Ke depan, persaingan di bidang komputasi kuantum antara China dan Amerika Serikat dipastikan akan semakin intens sebagai salah satu medan utama perebutan supremasi teknologi masa depan.
