Harga TBS Sawit Sumbar Tertinggi Se-Indonesia, Segini Harganya per Kg Mei 2026
Pandapek.com - Sumatera Barat mencatatkan prestasi gemilang di sektor perkebunan kelapa sawit nasional pada periode 11 hingga 17 Mei 2026.
Provinsi ini resmi menduduki posisi pertama nasional dengan harga tandan buah segar (TBS) mitra plasma tertinggi se-Indonesia, yakni Rp4.022 per kilogram.
Dunsanak Pandapek, pencapaian ini melampaui seluruh 22 provinsi penghasil sawit yang datanya dihimpun Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO).
Sumbar Kalahkan Sumsel dan Riau
Sumatera Selatan berada di urutan kedua dengan harga TBS mitra plasma Rp3.916 per kilogram.
Riau menyusul di posisi ketiga dengan harga Rp3.900 per kilogram, diikuti Sumatera Utara di angka Rp3.870 per kilogram.
Provinsi lain seperti Bangka Belitung mencatat Rp3.865 per kilogram dan Jambi berada di posisi Rp3.860 per kilogram.
Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah masing-masing mencatat Rp3.841 dan Rp3.783 per kilogram untuk periode yang sama.
Dunsanak Pandapek, posisi paling bawah dari 22 provinsi ditempati Banten dengan harga TBS hanya Rp2.400 per kilogram, jauh di bawah rata-rata nasional.
Rata-rata harga TBS nasional untuk periode ini berada di angka Rp3.538 per kilogram berdasarkan data resmi APKASINDO.
Harga CPO Ikut Positif
Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) nasional juga masih bertahan di level yang menggembirakan pada periode yang sama.
CPO tertinggi nasional tercatat di Bengkulu dengan harga Rp16.009 per kilogram, sementara rata-rata CPO nasional berada di Rp14.934 per kilogram.
Ketua Umum DPP APKASINDO, Dr Gulat ME Manurung, mengungkapkan data tersebut secara resmi pada Minggu, 16 Mei 2026.
Tren positif ini menjadi angin segar bagi petani sawit di seluruh wilayah sentra perkebunan Sumatera dan Kalimantan.
Dunsanak Pandapek, tingginya harga CPO turut memperkuat posisi komoditas sawit sebagai tulang punggung devisa sektor perkebunan nasional.
Kondisi ini dinilai mencerminkan kuatnya permintaan global terhadap minyak nabati asal Indonesia di tengah tekanan pasar internasional.
Petani Swadaya dan Plasma
Harga TBS petani swadaya di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) berada di kisaran Rp3.232 hingga Rp3.782 per kilogram untuk periode ini.
Sementara harga TBS petani bermitra plasma di PKS tercatat di rentang Rp2.450 hingga Rp3.972 per kilogram.
APKASINDO mencatat harga pokok produksi (HPP) sawit petani berada di kisaran Rp1.750 hingga Rp2.000 per kilogram.
Dunsanak Pandapek, dengan harga TBS yang berlaku saat ini, petani swadaya diperkirakan menikmati margin keuntungan Rp1.232 hingga Rp1.482 per kilogram.
Petani plasma mendapat keuntungan lebih besar, yakni berkisar antara Rp1.972 hingga Rp2.222 per kilogram dari setiap kilogram TBS yang dijual.
Kondisi ini menunjukkan bahwa usaha tani sawit saat ini masih memberikan kelayakan ekonomi yang cukup baik bagi petani di berbagai daerah.
Daftar Lengkap 22 Provinsi
Berikut daftar lengkap harga TBS mitra plasma 22 provinsi periode 11-17 Mei 2026 berdasarkan data penetapan Dinas Perkebunan masing-masing daerah.
Sumatera Barat memimpin di angka Rp4.022, disusul Sumatera Selatan Rp3.916, Riau Rp3.900, Sumatera Utara Rp3.870, dan Bangka Belitung Rp3.865 per kilogram.
Jambi berada di angka Rp3.860, Kalimantan Selatan Rp3.841, Kalimantan Tengah Rp3.783, Aceh Rp3.780, dan Kalimantan Barat Rp3.705 per kilogram.
Kalimantan Timur tercatat Rp3.632, Papua Rp3.597, Lampung Rp3.512, Sulawesi Tengah Rp3.500, dan Sulawesi Barat Rp3.493 per kilogram.
Dunsanak Pandapek, posisi bawah ditempati Bengkulu Rp3.486, Kalimantan Utara Rp3.473, Sulawesi Tenggara Rp3.182, dan Gorontalo Rp3.137 per kilogram.
Papua Barat mencatat Rp3.049, Sulawesi Selatan Rp2.827, dan Banten di posisi paling akhir dengan harga Rp2.400 per kilogram.
Faktor Pendorong Harga
Kuatnya harga TBS di Sumatera Barat tidak lepas dari mekanisme penetapan harga yang dilakukan secara berkala oleh Dinas Perkebunan Provinsi.
Penetapan harga yang transparan dan mengacu pada harga CPO pasar global menjadi salah satu faktor yang mendorong tingginya angka di Sumbar.
Kualitas TBS yang dihasilkan petani Sumbar juga dinilai konsisten, sehingga pabrik kelapa sawit bersedia membayar harga yang lebih kompetitif.
Dunsanak Pandapek, posisi Sumbar yang secara geografis dekat dengan pelabuhan ekspor juga menjadi faktor penekan biaya logistik yang turut mendongkrak harga di tingkat petani.
Tren ini menjadi motivasi bagi petani sawit di Sumbar untuk terus meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen di masa mendatang.
Pencapaian sebagai provinsi dengan harga TBS tertinggi se-Indonesia diharapkan mampu mendorong percepatan regenerasi tanaman dan peningkatan kesejahteraan petani di seluruh pelosok Sumatera Barat.
Harapan Petani ke Depan
Ketua Umum APKASINDO, Dr Gulat ME Manurung, berharap tren harga positif ini dapat bertahan hingga akhir kuartal kedua tahun 2026.
Stabilitas harga TBS dinilai sangat penting untuk mendorong petani melakukan peremajaan sawit rakyat secara berkelanjutan.
Pemerintah daerah juga diminta terus memperkuat pengawasan rantai pasok sawit agar harga yang ditetapkan benar-benar sampai ke tangan petani.
Dunsanak Pandapek, APKASINDO menegaskan bahwa transparansi data harga dari 22 provinsi ini bertujuan agar petani di seluruh Indonesia bisa memiliki referensi yang jelas dan terverifikasi.
Dengan posisi Sumbar sebagai pemimpin harga nasional, sektor sawit provinsi ini kini menjadi acuan dan perhatian bagi daerah penghasil sawit lain di seluruh Indonesia.
Momentum positif ini diharapkan terus dijaga melalui sinergi antara petani, pemerintah daerah, dan pelaku industri pengolahan sawit secara menyeluruh.
